Indeks Manufaktur Indonesia (PMI) Menunjukkan Kontraksi: Tanda Perlambatan Ekonomi yang Lebih Dalam?
PMI Manufaktur Indonesia untuk bulan Mei 2025 tercatat masih terkontraksi di level 47,4, yang menunjukkan adanya tekanan serius dalam sektor industri pengolahan. Angka ini menggambarkan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi kesulitan, meskipun ada sedikit perbaikan yang terjadi sebelumnya.
Penyebab Perlambatan
M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, mengungkapkan https://theaardvarkfl.com/ bahwa penurunan PMI ini tidak hanya mencerminkan pelemahan siklus ekonomi yang biasa terjadi, tetapi juga menunjukkan adanya tekanan struktural yang semakin dalam pada sektor industri pengolahan.
-
Permintaan Domestik dan Ekspor Lemah: Lemahnya permintaan dari pasar domestik dan ekspor, ditambah dengan tingginya biaya akibat depresiasi rupiah, memperburuk situasi. Hal ini menandakan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, dan pasar global pun belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan.
-
Biaya Input yang Meningkat: Depresiasi rupiah juga menyebabkan harga bahan baku impor menjadi lebih mahal, yang pada gilirannya memicu stagnasi produksi. Biaya input yang tinggi menjadi tantangan besar bagi industri manufaktur Indonesia yang bergantung pada bahan baku impor.
Tekanan Eksternal yang Terasa
Rizal juga menyoroti bahwa sektor manufaktur Indonesia kurang mampu menghadapi guncangan eksternal karena struktur industri yang belum kuat dan belum terdiferensiasi dengan baik. Ini menunjukkan bahwa sektor ini masih sangat rentan terhadap perubahan kondisi global, terutama fluktuasi nilai tukar rupiah dan ketidakpastian pasar internasional.
Baca Juga : Tentang Industri Kepada Orang-Orang yang Masih Mau Bermimpi
Prediksi Perlambatan Ekonomi
PMI yang terus berada di zona kontraksi selama dua bulan berturut-turut (April di angka 48,9 dan Mei di angka 47,4) menjadi indikasi perlambatan ekonomi yang lebih besar pada kuartal kedua 2025. Hal ini menjadi alarm dini bahwa ekonomi Indonesia belum berada dalam jalur ekspansi yang sehat, meskipun ada berbagai stimulus yang diberikan oleh pemerintah.
Sektor manufaktur yang berperan sangat penting terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja, kini justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat sektor manufaktur adalah salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah
Rizal memberikan kritik terhadap efektivitas stimulus yang telah digelontorkan oleh pemerintah. Menurutnya, pola belanja negara yang konsumtif dan tidak cukup mendorong sisi produksi justru memperburuk ketidakseimbangan antara permintaan jangka pendek dan suplai riil yang ada di pasar.
Tanpa adanya pemulihan sektor perdagangan dan produksi yang kuat, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5% akan sulit tercapai. Rizal menegaskan bahwa masa depan sektor manufaktur akan sangat bergantung pada kebijakan yang lebih terstruktur dan terintegrasi.
Mendorong Rekayasa Struktural
Rizal menekankan bahwa kekuatan sektor manufaktur tidak hanya bergantung pada stimulus fiskal jangka pendek. Yang lebih penting adalah adanya rekayasa struktural yang dapat menumbuhkan kapasitas industri dari hulu hingga hilir. Ini mencakup peningkatan infrastruktur, teknologi, dan kemudahan perizinan yang mendukung kelancaran operasi industri.
Jika pemerintah terus berfokus pada insentif yang bersifat permukaan tanpa menangani masalah yang lebih mendasar seperti biaya logistik dan kompleksitas perizinan, maka sektor manufaktur akan tetap berada dalam kondisi rentan dan tidak bertahan lama.